Jumat, Agustus 28, 2009

Tanaman Pemakan Tikus dan Kodok




























Di puncak tertinggi Gunung Victoria di Pulau Palawan yang terpencil di Filipina, hidup sejenis tanaman karnivora raksasa. Sementara kantong semar kebanyakan sebatas merengkuh dan menyantap serangga, jenis kantong semar yang satu ini bisa menelan hewan sebesar tikus.

Kantong semar Nepenthes attenboroughii ini ditemukan sekelompok misionaris di saat mereka berjalan kaki.
Mereka terkejut, bertanya-tanya, dan melaporkannya kepada media setempat. Kantong semar itu lalu muncul dalam Botanical Journal of the Linnean Society setelah dilaporkan Stewart McPherson, ahli botani dari Red Fern Natural History Productions, yang menelitinya sejak 2000.

Nepenthes attenboroughii, yang bisa tumbuh setinggi lebih dari 1 meter dengan struktur kantongnya yang berisi cairan, adalah tanaman karnivora kedua terbesar di dunia. Tanaman itu mensekresikan nektar di sekitar mulut kantong sebagai umpan untuk menarik perhatian tikus, serangga, dan mangsa lainnya.
Begitu ada "daging" yang masuk perangkap, enzim-enzim dan asam-asam dalam cairan akan berperan menghancurkan jasad korbannya yang mati tenggelam itu.

McPherson mengatakan bahwa semua tanaman karnivora sebenarnya telah berevolusi dengan hanya menyantap serangga, tapi jenis yang besar seperti ini bisa memangsa tikus, kadal, dan kodok. Sungguh luar biasa bahwa selama ini hidup satu jenis tanaman sebesar ini dan tidak ada yang mengetahuinya.


Kantong semar terbesar di dunia, Nepenthes rajah, ditemukan naturalis Inggris, Hugh Low, di Borneo pada 1858. Perilakunya yang bisa menelan seekor tikus terungkap empat tahun setelah penemuannya ketika kolega Low, Spenser St. John, menemukan bangkai tikus di dalam satu spesimennya. McPherson tidak yakin jenis-jenis tanaman kantong semar raksasa itu bisa dimanfaatkan sebagai alat perangkap tikus seperti ada yang pernah bertanya kepadanya.


Tikus dan celurut memang mudah datang ke manis nektar yang dihasilkannya, tapi tanaman itu hanya menjebaknya di saat tertentu. Memanfaatkannya sebagai alat perangkap menjadi tidak praktis. Lagi pula akan ada terlalu banyak tikus yang harus ditangkap tanaman itu. (KoranTempo)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar