Get paid To Promote at any Location
Tampilkan postingan dengan label cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cina. Tampilkan semua postingan

Rabu, September 02, 2009

Ancaman Militer China Meningkat

Kekuatan militer di antara China dan Taiwan makin tidak imbang. China makin kuat, sementara Taiwan tak bisa berkutik tanpa bantuan AS. Meski hubungan China-Taiwan mulai mesra, ancaman akan serangan dari China masih tetap ada. Apalagi mengingat China menginvestasikan jutaan dollar AS khusus untuk memperkuat militernya.


Sejumlah pengamat mengaku China gencar membeli perlengkapan senjata dari Rusia. China juga mengembangkan pesawat tempur dan misil serta membangun militer berteknologi tinggi. Bahkan, China tengah mempertimbangkan membangun kapal induk yang bisa mengangkut pesawat tempur.

Sebaliknya, militer Taiwan justru kerap terjerat sistem yang sudah tua. Persenjataan pun tidak secanggih China karena tak ada yang mau menjual senjata ke Taiwan—kecuali AS—karena takut terhadap China. Bahkan, Taiwan juga mulai mengurangi jumlah personel pasukan.

Untuk menekan ketegangan kedua pihak, Presiden Taiwan Ma Ying-jeou menggalakkan sektor perdagangan dan pariwisata. Langkah Ma ini berbeda dibandingkan dengan pendahulunya, mantan Presiden Chen Shui-bian, yang membuat China marah karena mendukung kemerdekaan bagi Taiwan.

Pakar militer Asia di Akademi Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura, Richard Bitzinger, memperkirakan akan ada resolusi atas kedaulatan Taiwan tanpa perlu serangan militer dari China mengingat superioritas militer China dan ketergantungan ekonomi Taiwan pada China. Belum lagi makin kencangnya isolasi diplomatik atas Taiwan. ”Kemungkinan, nantinya Taiwan harus menerima tawaran reunifikasi,” kata Bitzinger.

Meski akhir-akhir ini China melunak, China tak akan membiarkan Taiwan berdiri sendiri. ”Kami menentang perjuangan kemerdekaan Taiwan, menjaga kedaulatan dan integritas China,” kata Menteri Pertahanan China Liang Guanglie, Juli lalu.

Ribuan peluru kendali

Taiwan memperkirakan China memiliki 1.000-1.500 misil (peluru kendali) yang diarahkan ke Taiwan. China juga diduga tetap memperluas kekuatan senjatanya. ”Melihat kekuatan militer China, banyak orang yang ragu Taiwan akan bisa menang perang jika mengandalkan kekuatannya sendiri,” kata Sekretaris Jenderal partai berkuasa Taiwan, Partai Nasionalis (Kuomintang/KMT), Wu Den-yih.

Kelompok peneliti kebijakan di AS, RAND Corp, memperkirakan misil balistik jarak pendek China bisa dengan mudah menghancurkan kekuatan udara Taiwan dengan menyerang landasan pesawat terbang di setiap markas militer Taiwan.

Kondisi Angkatan Laut Taiwan justru lebih parah karena Taiwan hanya memiliki empat kapal selam, dua di antaranya dibuat pada zaman Perang Dunia II. Padahal China mempunyai lebih dari 50 kapal selam. Beberapa di antaranya diduga telah dipersenjatai dengan misil balistik dengan hulu ledak nuklir.

Jika terjadi serangan dari China, AS wajib melindungi Taiwan. Hanya saja pertanyaannya kini adalah seberapa cepat AS bisa datang dan menyelamatkan Taiwan? Apakah AS juga mempunyai keberanian melawan China? Pasalnya, China bisa dengan sangat mudah menyerang markas AS di Jepang dengan misil jarak jauhnya. (Kompas)

Rabu, April 22, 2009

Peningkatan Militer China Disesalkan AS

Kepala Operasional Angkatan Laut Amerika Serikat, Laksamana Gary Roughead mengatakan pentingnya menaati hukum dan keamanan laut terbuka. Komentar tersebut dikeluarkan berkaitan dengan insiden baru-baru ini antara kapal-kapal China dan kapal The Impeccable, milik Amerika Serikat.


“Terkait The Impeccable, seperti yang saya katakan, sangatlah penting bagi kita untuk mentaati hukum internasional. Walaupun mungkin saja ada beberapa interpretasi yang berbeda. Kita harus terus beroperasi sesuai dengan peraturan-peraturan di perjalanan, itu adalah hal yang diterima dan dimengerti oleh semua pelaut, dan yang paling penting adalah kita beroperasi dengan aman sehingga tidak membahayakan keselamatan para pria dan wanita kita.” Ujar Kepala Operasional Angkatan Laut A.S, Laksamana Gary Roughead.

Bulan lalu timbul ketegangan antara Amerika Serikat dan China dikarenakan insiden di Laut China Selatan. Dalam konflik dingin tersebut, kapal China melakukan maneuver yang mengganggu aktivitas kapal patroli Angkatan Laut A.S. The Impeccable.

Amerika Serikat mengatakan bahwa kelima kapal China itu ada di perairan internasional. Tapi Beijing membantah dan mengatakan peristiwa itu adalah tindakan yang melanggar kedaulatan China. Dalam Laporan Tahunan, Departeman Pertahanan A.S. China dinilai kurang transparan dalam pengembangan dan pembelanjaan militer. Beijing juga dilaporkan sedang mengembangkan senjata nuklir, ruang angkasa dan kemampuan-kemampuan perang cyber.