Get paid To Promote at any Location
Tampilkan postingan dengan label pig. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pig. Tampilkan semua postingan

Jumat, Mei 01, 2009

Hadapi Flu Babi, Depkes Siapkan 3 Juta kapsul Oseltamivir



Sampai hari ini situasi berkembang begitu cepat. Badan kesehatan dunia WHO telah menaikkan fase pandemi flu babi dari empat menjadi lima. Menurut situs resmi WHO, setidaknya sembilan negara telah resmi melaporkan 148 kasus flu babi akibat infeksi virus A/H1n1.

Pemerintah Amerika Serikat berdasarkan pemeriksaan laboratorium melaporkan 91 kasus dengan satu kematian. Meksiko melaporkan 26 kasus infeksi termasuk tujuh kematian.
Beberapa negara lain yang melaporkan (tanpa kasus kematian) antara lain Austria (1), Kanada (13), Jerman (3), Israel (2), New Zealand (3), Spanyol (4) dan Inggris (5).

Meski WHo menganjurkan agar perjalanan antar negara tidak dibatasi, disarankan agar mereka yang sakit menunda perjalanan internasional dan segera memeriksakan diri ke dokter.


Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam laporan resminya menyatakan, secara terus menerus mengikuti perkembangan kesehatan yang terjadi di dunia dengan mengumpulkan data dan informasi serta kajian ilmiah dari berbagai sumber.
Menurut Dirjen P2PL Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, sesuai International Health Regulation 2005, setiap negara anggota WHO mempunyai focal point yang secara otomatis memperoleh laporan tentang perkembangan penyakit flu babi (swine flu) yang terjadi di Meksiko dan berbagai belahan dunia lainnya.

Walaupun penyakit flu babi yang disebabkan virus H1N1 belum ditemukan di Indonesia, namun Depkes telah melakukan berbagai langkah kesiapsiagaan agar tidak masuk ke Indonesia dan antisipasi penanggulangnnya.
Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen P2PL Depkes dr. Rita Kusriastuti, M.Sc. menyatakan Depkes telah mendistribusikan ke seluruh Puskesmas, RS rujukan flu burung, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan, Dinkes Kab/Kota dan Provinsi sebanyak 3 juta kapsul Oseltamivir yang pada dasarnya sama dengan obat untuk penanggulangan flu burung H5N1. Sedangkan di Depkes juga masih tersedia sekitar 40 ribu dosis oseltamivir.

Depkes juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang mampu menangani kasus flu babi. Tiap rumah sakit memiliki ruang isolasi pasien, ventilator, obat dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya termasuk APD (Alat Pelndung Diri) bagi petugas kesehatan, jelas dr. Rita.
Simulasi pandemi penanggulangan episenter influenza juga sudah dua kali dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi apabila benar-benar terjadi pandemi.

Gejala flu babi mirip dengan flu burung, yaitu demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare. Cara penularannya melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita dengan masa inkubasinya 3 sampai 5 hari, kata dr. Rita
Karena itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai flu babi dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu. Bagi masyarakat yang telah melakukan perjalanan ke negara terjangkit flu babi, disarankan memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan terdekat, saran dr. Rita.

Mesir mulai bantai Babi

























Mesir, yang terpukul keras oleh flu burung, telah memerintahkan pembasmian setiap kumpulan babi di negara itu sebagai tindakan berjaga-jaga terhadap flu babi. Tapi, menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), cara itu salah.


Virus flu babi H1N1 disebarkan oleh manusia dan tidak ada dalam binatang Mesir, tapi penyembelihan babi, yang sebagian besar dianggap tidak bersih dalam masyarakat Muslim Mesir, dapat membantu mengatasi kepanikan.


Dua puluh enam orang telah meninggal di Mesir karena virus flu burung yang amat pathogenik dan para pakar mengkhawatirkan setiap pandemi flu dapat memiliki dampak yang merusak di negara tempat sebagian besar dari kira-kira 80 juta orang (penduduknya) tinggal di Lembah Nil yang padat, banyak di tempat-tempat kumuh yang penuh sesak di dan sekitar Kairo.


Namun PBB mengatakan penyembelihan massal hingga 400.000 babi merupakan "kesalahan nyata". "Tidak ada alasan untuk melakukan hal itu. Itu bukan influensa babi, itu influensa manusia," kata Joseph Domenech, kepala pejabat kehewanan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB.
Ia mengatakan FAO telah berupaya untuk menemui para pejabat Mesir tapi tak berhasil. Babi sebagian besar dipelihara oleh minoritas Kristen Mesir. Dalam satu pernyataan sebelumnya Rabu, Menteri Kesehatan Hatem el-Gabali mengatakan, "Kementerian ini memutuskan untuk menyembelih semua kawanan babi yang ada di Mesir, mulai hari ini."

Juru bicara kabinet Magdy Rady mengatakan Mesir akan memberi ganti rugi pada peternak karena kematian ternak mereka. Rady mengatakan peternakan babi di Mesir kondisinya buruk dan memunculkan risiko kesehatan. "Itulah mengapa orang benar-benar takut," katanya sebelum keputusan itu diambil.
Flu babi telah menewaskan sebanyak 159 orang di Meksiko dan satu bayi di AS, dan sejumlah kasus juga telah dilaporkan di Eropa dan juga tetangga Mesir, Israel. Mesir belum melaporkan satu kasus pun, tapi telah meningkatkan pengawasan di bandara. Mesir terpukul lebih keras oleh flu burung H5N1 ketimbang negara lain di luar Asia.


Resiko di Mesir

Para pakar telah lama mengkhawatirkan virus flu burung dapat bermutasi ke bentuk yang dapat menyebar dengan mudah di antara manusia, yang memicu pandemi yang dapat menewaskan jutaan orang.

Mesir telah menderita sentakan dalam kasus flu burung pada manusia bulan ini bahkan waktu musim flu mendekati akhir. Beberapa pakar mengatakan pembunuhan babi tidak mungkin akan memiliki dampak pada meluasnya flu babi jika virus itu mencapai negara tersebut melalui pelancong udara.

"Saya tidak ingin mengatakan itu bermanfaat bagi flu babi. Itu akan bermanfaat bagi kesehatan umum...Pada umumnya, babi dapat menularkan banyak penyakit lain," Hussein Gezairy, direktur regional WHO, mengatakan kepada wartawan.

Mona Aly Mehrez, Direktur Institut Riset Kesejahteraan Hewan milik-pemerintah, mengatakan Mesir telah lama ingin memindahkan babi jauh dari pusat-pusat kota sebagai tindakan berjaga-jaga karena ancaman flu burung.

Beberapa pakar mengatakan bahwa secara teknis mungkin, tapi sangat tidak mungkin bahwa flu babi -- campuran flu babi, manusia dan unggas -- dapat menemukan cara untuk bargabung dengan H5N1 di Mesir untuk menciptakan virus flu lain.