Sampai hari ini situasi berkembang begitu cepat. Badan kesehatan dunia WHO telah menaikkan fase pandemi flu babi dari empat menjadi lima. Menurut situs resmi WHO, setidaknya sembilan negara telah resmi melaporkan 148 kasus flu babi akibat infeksi virus A/H1n1.
Pemerintah Amerika Serikat berdasarkan pemeriksaan laboratorium melaporkan 91 kasus dengan satu kematian. Meksiko melaporkan 26 kasus infeksi termasuk tujuh kematian.Beberapa negara lain yang melaporkan (tanpa kasus kematian) antara lain Austria (1), Kanada (13), Jerman (3), Israel (2), New Zealand (3), Spanyol (4) dan Inggris (5).
Meski WHo menganjurkan agar perjalanan antar negara tidak dibatasi, disarankan agar mereka yang sakit menunda perjalanan internasional dan segera memeriksakan diri ke dokter.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam laporan resminya menyatakan, secara terus menerus mengikuti perkembangan kesehatan yang terjadi di dunia dengan mengumpulkan data dan informasi serta kajian ilmiah dari berbagai sumber. Menurut Dirjen P2PL Depkes Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P., MARS, sesuai International Health Regulation 2005, setiap negara anggota WHO mempunyai focal point yang secara otomatis memperoleh laporan tentang perkembangan penyakit flu babi (swine flu) yang terjadi di Meksiko dan berbagai belahan dunia lainnya.
Walaupun penyakit flu babi yang disebabkan virus H1N1 belum ditemukan di Indonesia, namun Depkes telah melakukan berbagai langkah kesiapsiagaan agar tidak masuk ke Indonesia dan antisipasi penanggulangnnya. Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Ditjen P2PL Depkes dr. Rita Kusriastuti, M.Sc. menyatakan Depkes telah mendistribusikan ke seluruh Puskesmas, RS rujukan flu burung, Kantor Kesehatan Pelabuhan, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan, Dinkes Kab/Kota dan Provinsi sebanyak 3 juta kapsul Oseltamivir yang pada dasarnya sama dengan obat untuk penanggulangan flu burung H5N1. Sedangkan di Depkes juga masih tersedia sekitar 40 ribu dosis oseltamivir.
Depkes juga menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang mampu menangani kasus flu babi. Tiap rumah sakit memiliki ruang isolasi pasien, ventilator, obat dan beberapa fasilitas kesehatan lainnya termasuk APD (Alat Pelndung Diri) bagi petugas kesehatan, jelas dr. Rita.Simulasi pandemi penanggulangan episenter influenza juga sudah dua kali dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan pemerintah dan masyarakat dalam mengantisipasi apabila benar-benar terjadi pandemi.
Gejala flu babi mirip dengan flu burung, yaitu demam, batuk pilek, lesu, letih, nyeri tenggorokan, napas cepat atau sesak napas, mungkin disertai mual, muntah dan diare. Cara penularannya melalui udara dan dapat juga melalui kontak langsung dengan penderita dengan masa inkubasinya 3 sampai 5 hari, kata dr. RitaKarena itu, masyarakat dihimbau untuk mewaspadai flu babi dengan menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menutup hidung dan mulut apabila bersin, mencuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas, dan segera memeriksakan kesehatan apabila mengalami gejala flu. Bagi masyarakat yang telah melakukan perjalanan ke negara terjangkit flu babi, disarankan memeriksakan kesehatannya ke fasilitas kesehatan terdekat, saran dr. Rita.
Penderita Lupus di bawah ini bernama sdri. Vonny, gejala-gejala mulai terkena penyakit ini sejak bulan Oktober 2008. Mula-mula, dia merasakan demam dan pegal-pegal di seluruh badannya, karena dia sangka cuma pegal-pegal biasa lalu dia minum obat antibiotik, jamu, obat cacing dan dilanjutkan dengan obat rematik, tapi ternyata tak sembuh-sembuh juga. Setelah itu pada tanggal 1 januari 2009 dia sempat opnaam 2 kali di rumah sakit Budi Lestari Bekasi, dari pihak rumah sakit itu menyatakan bahwa dia terkena tifus. Namun karena keadaannya tidak membaik juga, malah makin parah, karena timbul gejala-gejala seperti sariawan yang sangat banyak di seluruh mulutnya, rambut mulai rontok, tulang-tulang di sekujur tubuh terasa sangat sakit sehingga tidak bisa tidur nyenyak, akhirnya kami membawanya ke rumah sakit PGI Cikini, dan di situlah baru kemudian ketahuan bahwa dia terkena penyakit Lupus. Gejala yang bertambah selama opnaam di rumah sakit PGI Cikini adalah sakit kepala dan berat badannya merosot secara drastis, dari berat mula-mula 60 kg menjadi 43 kg saja.
Sampai saat ini keadaannya mulai membaik namun belum kembali dalam kondisi yang sehat seperti sediakala. Dan dia masih sangat membutuhkan uluran tangan dari kita semua karena biaya pemulihannya yang besar dan berkelanjutan.
Jika Anda tersentuh hati untuk menolong atau meringankan beban saudari kita ini, Anda bisa salurkan bantuan Anda ke Bank BCA cabang Grandmall Bekasi, nomor rekening BCA:6630-245-531, a/n Peter (nama saya, saudaranya). Konfirmasi bantuan: sms ke phone.0882-1053-2462.