Sepertinya, Manohara Odelia Pinot belum bisa leluasa menjalankan karir keartisannya di Indonesia. Pasal-nya, ia harus menghadapi tuntutan sang suami, Muhammad Tengku Fakhry atas kasus pencemaran nama baik.
Tak tanggung-tanggung, Manohara dituntut secara pedata senilai 105 juta ringgit kalau dirupiahkan mencapai angka Rp 297,6.
Melalui kuasa hukum-nya, Mohd Haaziq, Fakhry menuntut Manohara dan ibunya, Daisy Fajarina karena telah mencemarkan nama baiknya.
Fakhry resmi mengajukan tuntutan di Pengadilan Kuala Lumpur, Senin (20/7/2009) pagi.
Seperti dilansir banyak media di Malaysia, Fakhry benar-benar serius memperkarakan sang istri. Sebab, Fakhry juga sudah resmi mengirim laporan lewat Kedutaan Besar Indonesia di Kuala Lumpur, dan Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta.
Langkah ini, ditempuh Fakhry karena Manohara dan Daisy berada di Indonesia, sementara Fakhry di Malaysia.
Sementara di tanah air, seperti diketahui Manohara juga sudah melaporkan Tengku Fakhry ke Mabes Polri. Lalu, seperti kelanjutan kasus ini? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Sejak terbebas dari suaminya, Tengku Muhammad Fakhry, Manohara Odelia Pinot selalu tersenyum lebar. Mantan model cantik itu tampak sangat bahagia ketika tampil di televisi Indonesia. Ia seperti melupakan siksaan yang pernah dialaminya.
Namun pada Rabu (3/6/2009), saat tampil di 'Seputar Indonesia' penampilan Mano sungguh berbeda. Model cantik yang mengaku dianiya suaminya itu berlinang air mata. Mano tidak kuasa lagi menahan tangis saat mengungkapkan perkosaan yang pernah dialaminya.
Ini kali pertama Mano menangis di depan publik. Sebelumnya, dalam sejumlah wawancara di TV, Mano selalu tampil ceria dengan senyum menghiasi wajahnya.
"Saya dulu pernah diperkosa oleh Fakhry sebelum nikah, saya memang baru bicara sekarang," kata Mano sambil sesenggukan. Ibunda Mano, Daisy Fajarina yang ada di samping Mano tampak menepuk-nepuk pundak putrinya itu.
Dalam 'Seputar Indonesia', Mano tampil bersama ibunya, Daisy Fajarina. Sang presenter juga menghadirkan sahabat Fakhry, M Soberi untuk dimintai tanggapan.
Awalnya, perbincangan di acara itu berlangsung biasa saja, nyaris sama dengan dialog yang sebelumnya muncul di TV lainnya. Mano yang mengenakan kaos warna merah menjelaskan tentang siksaan yang didapatnya dari sang suami. Mano juga menjelaskan kisah kaburnya dari Singapura.
Pernyataan Mano lantas dikonfrontir dengan Soberi. Mano dan ibunya pada mulanya berusaha menangkis kata-kata Soberi. Mano tidak bisa berkata-kata saat Soberi terus menerus mencercanya. Soberi mencecar Mano tentang perasaan model cantik itu pada Fakhry.
Menurut Soberi, Mano pernah mengaku cinta dan bersumpah setia menjadi istri putra keempat Sultan Kelantan itu. Pihak televisi meminta Soberi untuk memberi kesempatan Mano untuk berbicara, tapi Soberi tidak mau diam.
Mendapatkan cercaan itu, Mano mengakui ia awalnya sayang pada Fakhry. Mano menegaskan antara sayang dan cinta itu berbeda. Mano membenci Fakhry karena diperlakukan dengan buruk. "He knows that i hate him, but dia tetap tidak mau mendengar," kata Mano.
Menurut Raditya, sahabat Manohara, pernikahan Manohara terlampau cepat karena umurnya bahkan belum genap 17 tahun saat dinikahi Tengku Fakhry.
Raditya menyatakan bahwa Mano sering kali hanya dianggap sebagai properti dan bukan istri. Tengku memperlakukan Mano sebagai barang pajangan dia.
Bahkan pada saat bulan madu, waktu Manohara sedang haid dan tidak bisa melayani suami, Tengku berkata kepada Mano,"Kamu tidak berguna, kamu kan sebenarnya properti saya."
Manohara Odelia Pinot mengatakan bahwa suaminya, Tengku Temenggong Muhammad Fakhry, tega berbuat melampaui batas kemanusiaan. Fakhry tega menyilet dan menempelkan strika panas ke dada Mano.
Pengakuan Mano ini disampaikan dalam jumpa pers di Ariobimo, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (1/6). Menurut Mano, sehari sebelum menginjakkan kaki di Tanah Air ia masih mengalami penyiksaan dari suaminya. ”Hari terakhir bersama Pipi (Tengku Fakhry) saya masih mengalami penyiksaan secara fisik dan mental,” ungkapnya.
Mano bersumpah bahwa omongannya tidak mengada-ada. Dia juga siap membuktikan semua ucapannya itu. ”Saya bisa buktikan semua yang telah saya alami dan terjadi pada saya,” katanya.
Kuasa hukum Manohara Odelia Pinot, OC Kaligis, tidak main-main dalam membantu kliennya mendapatkan keadilan. Kaligis telah menyiapkan ahli forensik untuk membantu Mano.
”Saya sudah bertemu dokter ahli forensik, dia ahli visum. Dia sudah bilang setuju, tapi untuk waktunya kita belum bisa kasih tahu. Yang pasti secepatnya,” tutur Kaligis yang mendampingi Manohara dalam jumpa pers tersebut.
Kaligis menyatakan tidak ingin gegabah dalam mengambil tindakan karena pernikahan Mano tidak tercatat secara legal. Mano menikah dengan Tengku Temenggong Muhammad Fakhry di bawah tangan.
”Saya tidak mau semboro dalam menangani kasus. Saya tidak mungkin menangani suatu kasus tanpa memiliki dasar, tanpa memiliki fakta hukum yang jelas. Saya juga bersikap profesional,” kata Kaligis.
Sementara itu, Staf Kedubes RI di Singapura, Fahmi, mengklaim bahwa pembebasan Mano tak lepas dari peran dan kerja sama Kedubes RI dan Kedubes Amerika Serikat (AS) di Singapura. ”Karena Mano memiliki dua kewarganegaraan, maka kami bekerja sama dengan Embassy (Kedubes) AS untuk membebaskannya,” kata Fahmi yang turut mengantar Manohara ke Indonesia.
Seperti ditulis Kompas.com, Fahmi mengatakan, awalnya KBRI mendapat informasi dari diplomat AS tentang warga Indonesia yang mendapatkan kesulitan. Diplomat kedua negara pun berupaya membebaskan Manohara dari hotel tempat ia menginap.
Awalnya, Kedubes AS menginginkan Manohara pulang ke AS. Namun, karena paspor AS Manohara hilang dan Kedubes AS tidak bisa mengeluarkan paspor dalam waktu cepat, maka Manohara dipulangkan ke Indonesia. ”Kejadian itu pukul 02.00 hingga 04.00 dini hari. Karena pelayanan kami 24 jam, maka kita bergerak cepat dan memutuskan Manohara ke Indonesia,” kata Fahmi.
Berdasarkan instruksi pejabat Kedubes AS, begitu meninggalkan hotel Manohara langsung dibawa ke Bandara Internasional Changi. ”Jangan ke mana-mana, ke luar hotel langsung ke bandara,” kata Fahmi mengutip perintah pejabat Kedubes AS.
Kepulangan Manohara pun menggunakan taktik yang disusun pihak AS, Kedubes RI, dan kepolisian Singapura. Keberangkatan dari terminal dua berubah ke terminal tujuh. Meskipun Fahmi tidak melihat bekas siksaan fisik, ia yakin Manohara tersiksa. ”Ketika diinterogasi kepolisian Singapura, dia mengakui itu. ia tidak mungkin bohong,” katanya.
Jadwal padat
Setibanya di Jakarta, jadwal Mano sangat padat. Dia harus meladeni wawancara dan undangan dari berbagai stasiun televisi. Sejak pagi, sekitar pukul 07.00, Manohara sudah tidak ada di rumahnya. Dia harus melanjutkan wawancara khusus dengan televisi swasta yang mengikutinya dari Singapura.
Setelah hampir dua jam menyelesaikan wawancara khusus, Manohara dan Daisy menerima wawancara tayangan langsung acara infotainment. Berikutnya, Manohara dan Daisy mengikuti acara talkshow di sebuah studio televisi di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Itu belum selesai, petang harinya berturut-turut Manohara melakukan wawancara khusus untuk acara berita dan rekaman talkshow.
”Untuk saat ini rencana visum dan pemeriksaan kesehatan itu kami tunda. Kami akan menyusun jadwal baru untuk ke rumah sakit. Ini tetap penting, karena hasil pemeriksaan Manohara akan digunakan untuk bukti,” kata Daisy.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, dirinya selalu berupaya memperhatikan nasib warga negaranya, termasuk kasus model Manohara Odelia Pinot yang mengalami masalah dalam pernikahannya dengan Pangeran Kelantan Malaysia.
"Saya ini hati-hati dalam mencampuri urusan rumah tangga atau keluarga. Jika saudara melakukan perkawinan dan ada masalah, masak presiden intervensi? Kebebasan bagaimana, demokrasi bagaimana? Tetapi karena sudah menjadi isu publik, jangan dikira saya tidak peduli," kata presiden sebelum meninggalkan Jeju, Korea Selatan, Selasa (2/6).
Mengetahui masalah Manohara yang menjadi heboh dalam pemberitaan media infotainment, Presiden pada awal Mei telah meminta Dubes Indonesia di Malaysia, Dai Bachtiar, untuk menyampaikan surat keberatan atau kepedulian pemerintah Indonesia kepada Menlu Malaysia terhadap kasus Manohara itu.
"Saya pesan memang pada menlu dan dubes untuk dikelola dengan baik, tahu batas mana urusan rumah tangga dan mana yang menyangkut soal HAM di mana kita punya ruang untuk ikut masuki wilayah itu," kata Presiden.
Dikatakan Presiden dirinya Senin (6/1) kemarin kembali dilapori mengenai kejadian Manohara yang berhasil melarikan diri ke Indonesia saat berada di Singapura.
"Karena Manohara masih WNI bagaimanapun saya sebagai kepala negara punya kepentingan. Jadi sebetulnya pada tingkat negara dan pemerintah kewajiban kita pada porsi tertentu tetap dijalankan," kata Presiden.
Dijelaskannya, tujuan pemerintah adalah membantu dan melindungi warga negaranya saat mendapat perlakuan yang tidak baik dan kemudian selebihnya dikembalikan kepada urusan pribadi.
"Jangan hanya dilihat dari segi entertainment saja," kata Presiden.