Rabu, Juli 08, 2009

Hasil Pilpres 2009 - Versi QuickCount

Rakyat Indonesia kembali memilih Bpk Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia untuk masa jabatan 2009-2014.

Hasil QuickCount (Trans Corp dan LSI):
  1. Megawati-Prabowo -> 27,36 %
  2. SBY-Budiono --------> 60,16 %
  3. JK-Wiranto ----------> 12,49 %

13 komentar:

  1. Kasihan JK ya ... hehehe..

    BalasHapus
  2. ..rakyat pengen yang pasti-pasti aje ...

    BalasHapus
  3. Kawasaki-Ninja8 Juli 2009 18.31

    ..SBY dan Budiono mengabdi tanpa memperkaya diri..

    BalasHapus
  4. ..Wuih gue sangka JK melebihi Mega, ga taunya... nukik..hehe

    BalasHapus
  5. Lanjuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttt Kan yooo!!!

    BalasHapus
  6. bila memang nanti SBY menang (pengumuman resmi KPU) maka ini artinya sby telah sukses dalam memimpin bangsa 5 tahun lalu.. dalam arti lain rakyat indo telah merasakan dampak positif kepemimpinan sby.. dan rakyat kita sekarang lebih rasional dalam memilih.. dengan lebih mengedepankan ketokohan dan tracking kandidat..

    BalasHapus
  7. Maka-nya, capres lain kayak SBY dong, dia mampu memberikan energi positif kpd rakyat Indonesia...
    ..saya akui Pak JK cukup cerdas dlm segala aspek, namun dia belum punya kemampuan untuk "mengumpulkan" massa yang banyak dan loyal.

    BalasHapus
  8. moga2 indo tambah makmur saja

    BalasHapus
  9. matanp sob...
    LANJUTKAN...

    BalasHapus
  10. Meski baru Quick Count, sudah terbayang siapa yang bakal jadi presiden selanjutnya. Dari pengamatan, pembicaraan terbanyaknya saat ini adalah mengapa JK-Win kalah dan bukan tentang mengapa "Mega-Pro" bisa melejit hingga di atas 20%

    Rendahnya perolehan suara JK Win (versi Quick Count) terbilang mengejutkan. Soalnya, ada semacam persepsi bahwa Kalla bisa menyalip Megawati dan mampu memaksakan pilpres dua putaran. Dari manakah persepsi itu muncul?

    Selain tim kampanye Kalla sendiri, persepsi ini banyak menghinggapi orang-orang yang terbilang aktif membaca media, termasuk media online maupun situs pertemanan sosial seperti facebook.

    Persepsi itu tersusun karena derasnya pemberitaan. Analisis isi yang dilakukan Charta Politika selama masa kampanye terhadap sejumlah koran nasional, misalnya, menunjukkan intensitas pemberitaan Kalla yang relatif konsisten ketimbang SBY yang lebih putus-putus.Artinya, Kalla hadir terus di media, sementara SBY mirip orang tak bisa berenang di tengah kolam, "timbul, tenggelam".

    Intensitas pemberitaan yang tinggi itu diikuti dengan gencarnya komentar dan ulasan. Dalam pengamatan berpolitik, di situs-situs online yang menyediakan ruang bagi pembaca untuk berpartisipasi, komentar-komentar yang bernada positif (kepada Kalla) dan bernada negatif (kepada SBY) jauh lebih banyak dan lebih "mengiris". Fenomena ini tak terkecuali terjadi di berpolitik.com.

    Begitu juga di dunia blog. Yang cukup mencolok terlihat di kompasiana. Di wadah kumpulan blog milik Kompas itu, ada kesan para blogger yang menjadi komunitasnya lebih condong kepada Kalla. Tak mengherankan jika para blogger yang menulis positif tentang SBY biasanya mendapat kritikan, baik yang kelasnya argumentatif hingga yang sekadar 'pokok'-nya.

    Persepsi itu makin menguat besar terutama sekali jika secara intens hanya membaca media cetak tertentu saja (Media Indonesia, misalnya) atau berkunjung ke online tertentu saja (Inilah.com atau Vivanews.com, misalnya).

    Penguyah media kelas berat makin terdistorsi persepsinya tatkala menyimak iklan-iklan Kalla yang variatif dan iklan-iklan Mega yang agresif. Yang tersusun sebagai kesimpulan: SBY terdesak, Kalla naik daun. (Ini diperkuat dengan hasil polling yang menunjukkan adanya tren penurunan pada SBY dan kenaikan pada Kalla. Meski data sebenarnya menunjukkan tren tersebut tidak signifikan karena gapnya yang terlalu lebar).

    Singkatnya, telah terjadi penggelembungan persepsi.

    Ia bak balon yang dipompa, membesar tapi kopong. Kekopongan itu bisa terjadi karena dua hal. Pertama, realitas yang terbangun di media cetak dan online, khususnya, lebih bersifat 'manufaktur' ketimbang tersaji sebagai wacana kerumunan (crowd).

    Artinya, memang ada upaya sistematik membangun konstruksi sosial di ranah media. Ini melibatkan kerja public relation yang terorganisir. Dalam hal ini, reporter telah digiring untuk membangun bingkai yang menguntungkan Kalla dan banyak pemberi komentar di online adalah mereka yang memang bekerja untuk melakukan itu. (Tentu saja, pihak SBY dan Mega juga melakukan hal serupa, tapi sepertinya mereka tak sekuat tim Kalla).

    Terkait itu, meski bisa 'menguasai' media, tim Kalla gagal menemukan 'jangkar' berpikir masyarakat luas. Jangkar berpikir ini adalah semacam kerangka rujukan yang ada dibenak orang untuk mengolah sebuah pesan. Akibatnya, alih-alih menggoda, pesan-pesan yang dibombardir itu mengalami pengabaian dan bahkan penolakan.

    Akibatnya, meski apa yang tersaji di media mengalami perembesan berkat jasa para oponion leader, pesan itu tetap tak persuasif. (Dari mulai soal neo-lib hingga penundaan pilpres, dari mulai koor dukungan ormas Islam hingga soal DPT ternyata sepertinya pesan-pesan yang salah tempat. Pesan-pesan ini mirip muntahan senapan mesin. Bunyi muntahan pelurunya memekakkan telinga, tapi tak satupun mengena ke sasaran).

    Hal inilah setidaknya untuk sebagian menjelaskan mengapa Kalla berada di urutan buncit (setidaknya menurut Quick Count). Pertanyaannya, mengapa Mega Pro justru bisa melampaui 20%?

    BalasHapus
  11. BTW emang kmrn nyontreng siapa mas?? kalo aku sih, Lanjutkan...!! Blog walking nihh 'lam kenal yooo!!

    BalasHapus