Rabu, Mei 27, 2009

Menyusui Bayi Tetaplah Yang Terbaik

















Derasnya tayangan iklan susu formula di berbagai media membuat manfaat air susu ibu (ASI) semakin ditinggalkan.


Padahal, kandungan ASI jauh lebih lengkap dari susu formula. Tawaran iklan yang menjanjikan kecerdasan anak pada masa datang tidak jarang membuat ibu memercayakan pemenuhan gizi dari susu formula. Kecenderungan tersebut mengakibatkan pemberian ASI kepada anak banyak ditinggalkan.
ASI merupakan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi bayi. Selain memiliki kandungan gizi yang tinggi, kedudukan ASI tidak mungkin tergantikan oleh susu formula apa pun. Apalagi, bagi bayi berusia di bawah enam bulan.

Selain gencarnya tayangan iklan di media massa, pengetahuan ibu tentang kegunaan ASI pada bayi masih minim. Bukan itu saja, keluhan-keluhan seperti masa cuti habis bagi ibu pekerja, ASI yang tidak lagi keluar kerap menjadi keluhan para ibu.

"Padahal, kandungan di dalam ASI mampu memenuhi semua kebutuhan gizi. ASI merupakan cairan hidup mencangkup enzim makanan, hormon petumbuhan, AA, DHA, dan ARA," papar Ketua Sentra Laktasi Indonesia dr Utami Roesli SpA MBA IBCLC.

Pemberian ASI merupakan bagian dari penerapan gizi seimbang, khususnya terhadap anak balita. Belum diterapkannya gizi seimbang akibat ibu-ibu lebih banyak memberikan makanan berdasarkan selera dan tren yang ada.

Tidak hanya itu, efek pemberian ASI akan terasa dalam jangka panjang. Bayi yang tumbuh dengan ASI cukup dan kini berusia delapan tahun ternyata memiliki intelegensi lebih baik. Bahkan, setelah berusia 15 tahun, anak-anak ini memiliki kecerdasan relatif lebih stabil.

Hal tersebut dibuktikan dengan respons mereka dalam mengambil keputusan untuk masalah-masalah yang sedang mereka hadapi. Anak-anak yang mendapatkan air susu ibu cukup ternyata memiliki kemampuan atau respons dalam menyelesaikan masalah lebih cepat dibandingkan bayi yang kurang atau tidak mengonsumsi ASI.

Melalui pemberian ASI pula, risiko kematian pada bayi dapat ditekan sampai 7-14 kali. Manfaat lain jika ibu memberikan ASI adalah menghindarkan anak dari kanker leukimia sampai 8-10 kali.

Menyikapi keluhan ibu terkait kelancaran ASI, Utami berpendapat hal tersebut tidaklah tepat. Dari 1.000 ibu yang mengatakan ASI-nya tidak keluar, hanya satu yang benar-benar bermasalah. Sementara itu, sebanyak 999 kasus hanya masalah informasi menyusui.

"Produksi ASI tergantung dari demand and supply, yaitu ASI akan terus keluar jika bayi masih membutuhkan," lanjutnya. Jadi, bila ada kebutuhan anak terhadap ASI, dengan sendirinya produksi ASI akan tersedia.

Untuk itu, ibu yang akan menyusui bayinya harus percaya diri bahwa ASI sangat tergantung dari permintaan dan penawaran. Untuk mengetahui seberapa banyak kalori yang dibutuhkan, bayilah yang menentukan.

Banyak faktor lain yang memengaruhi produksi ASI, salah satunya kondisi psikologis ibu. Sebab, produksi ASI dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitoksin. Nah, bila ibu mengalami stress, berarti oksitoksin menekan produksi ASI, misalkan ibu mengalami masalah dalam rumah tangga. Itu praktis akan mengganggu kondisi psikologis ibu dan berakibat menurunkan produksi ASI.

Selanjutnya, gizi bagi ibu menyusui juga perlu diperhatikan. Ibu yang kurang gizi akan berpengaruh terhadap jumlah dan kualitas ASI. Cadangan nutrisi tubuh dari sang ibulah yang menjadi komponen pokok ASI. Bila makanan ibu tetap kurang dalam waktu lama, kandungan di dalam ASI lebih sedikit vitamin dan lemak.



(Okezone.com)

10 komentar:

  1. Gue pengen jadi bayi lagi nihh..

    BalasHapus
  2. Wah Coba klo yang menyusui LUNA MAYA pasti tambah mantap tuh

    BalasHapus
  3. apa g' lemes tu bayi, sama gede dengan kepala bayi... uenakk tenan ASI bilang bayi....

    BalasHapus
  4. wkwkwwkwkwkwkwwkwkwkkwkwwkkwk, susu kok di obral emang susu sapi

    BalasHapus
  5. wah kalo yg itu, papanya pasti jg mau....wkwkwkw

    BalasHapus