Sabtu, Mei 23, 2009

Pesawat CN-235 Siap Gantikan Fokker-27


Pesawat CN-235 siap menggantikan tugas Fokker-27 milik TNI-AU yang saat ini usianya sudah tergolong tua. "Pesawat CN-235 akan menggantikan pesawat-pesawat Fokker-27, yang saat ini dioperasikan oleh TNI-AU," kata Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Budi Santoso, di sela-sela kunjungan Wapres Jusuf Kalla di PT Pindad Bandung, Jumat.

Menurut Budi, CN-235 cocok untuk angkutan penumpang jarak pendek dan angkutan cargo yang selama ini diperankan Fokker-27 milik TNI AU. Keputusan untuk menggunakan pesawat CN-235 dalam peremajaan pesawat Fokker itu, menyusul pabrikan Foker saat ini sudah tutup sehingga kesulitan dalam perawatan dan pemeliharaanya.

"Setahu saya saat ini sudah tak ada lagi maskapai penerbangan yang mengoperasikan Fokker-27. Pesawat itu hanya dioperasikan TNI-AU," katanya.

Rencana order pesawat CN-235 itu, kata Budi, akan direalisasikan pada tahun anggaran antara 2010 hingga 2014. Namun demikian, ia belum mengetahui berapa pesawat yang akan dipesan untuk menggantikan Fokker itu.

"Memang peran Hercules A130 belum bisa tergantikan, tapi untuk jenis di bawahnya pesawat cargo kecil lebih efektif. Saat ini hanya dua industri pesawat cargo propeler di dunia yakni G-222 di Italia dan CN-235 buatan PTDI," kata Budi.

Terkait spesifikasi CN-235, memang hampir sama namun diakuinya dari kecepatan masih di bawah Foker karena jenis mesin penggeraknya yang berbeda. Namun secara umum, spesifikasi CN-235 sebagai pesawat cargo sangat memadai. Selain itu peran Fokker-27 sebagai pesawat transportasi dan angkutan barang atau perlengkapan TNI.

"Bila order sudah ada, kami siap mengerjakannya. Namun sejauh ini belum jelas berapa pesawat yang kemungkinan dipesan ke PTDI," katanya.

Saat ini, PTDI tengah menyelesaikan order empat pesawat CN-235 versi MPA dan VIP pesanan Korea Selatan. Korea Selatan selama ini menjadi pengguna CN-235 buatan PTDI.

Kerugian

Sementara itu, musibah jatuhnya pesawat Fokker-27 milik TNI-AU pada April 2009 di atas hanggar pemeliharaan PTDI mengakibatkan kerugian sekitar 15 juta dollar AS. Kerugian itu akibat ikut rusaknya dua pesawat yang sedang dalam perawatan yakni pesawat Batavia Air dan N-212 milik Deraya. Kedua pesawat itu tertimpa pesawat yang jatuh itu.

"Kerugian akibat kerusakan di kedua pesawat itu sekitar 15 juta dollar AS, Belum termasuk bangunan," kata Budi.

Ia menyebutkan, kedua pesawat itu sebenarnya sudah hampir rampung dan akan diserahkan kepada maskapai penerbangan pemiliknya.

Namun dengan peristiwa itu, hingga kini pesawat itu masih dalam perbaikan. Peristiwa nahas itu sendiri mengakibatkan 18 prajurit TNI-AU tewas. "Pasca kejadian itu, kami memindahkan kegiatan maintanance pesawat ke hanggar sebelahnya, Perbaikan hanggar yang rusak masih dihitung oleh pihak asuransi," kata Budi. Meski demikian, proses perawatan dan maintenance pesawat saat ini tak terganggu. (Warta Kota)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar